Kamis, 23 September 2010

Creativity is a Muscle

Hari ini mulai mengatur ruangan untuk pelatihan PAIKEM bagi guru-guru di Jakarta Barat. Pelatihan dengan topik yang cukup baru dan menarik. Hanya saja, kami masih buta dengan tipologi peserta. Usaha mengumpulkan informasi masih minim didapat.

Berlima kami sore ini mulai mengatur pernak-pernik ruangan. Kami berusaha membuatnya tidak seperti kelas konvensional yang selama ini berlaku. Membawa suasana baru dan segar bagi peserta. Dekorasi ruangan akan menjadi salah satu faktor penting untuk membawa suasana yang lebih kreatif dan memacu inovasi kerja.

Anda pernah merasa bosan di kantor? Apa faktor penyebabnya? Apakah ruang dan lingkungan kerja membuat Anda bersemangat dan betah?

Banyak orang mengeluh tidak kreatif. Namun, apakah kreatif itu bawaan?
Coba kritisi oleh Anda. Seorang Diva hanya mampu mencapai tingkatan seperti itu bila sebagian besar waktunya setiap hari digunakannya untuk berlatih menyanyi. Bagaimana dengan juara dunia bulutangkis? Bukankah setiap hari waktunya dihabiskan di dalam lapangan. Begitu juga dengan pelukis, presenter, model, trainer dlsb.

Setiap orang dapat mengoptimalkan keistimewaan yang dimilikinya. Karenanya, bersyukurlah orang yang telah menemukan keistimewaannya sejak dini, dan lalu menempanya untuk menjadi sesuatu yang luar biasa. Kreativitas bisa saja diasah.

Organisasi yang hebat adalah organisasi yang mampu mendayagunakan kreatifitas pegawainya dengan bagus. Kreatifitas pegawailah yang akan menentukan kehebatan suatu organisasi. Bila masing-masing pegawai mampu berkreasi, maka akan tercipta sebuah tim yang hebat. Sebagai pemimpin Anda tinggal mengarahkan dan memberi kesempatan masing-masing pegawai untuk menunjukkan kreatifitasnya.

Creativity is a mucle.

Senin, 20 September 2010

p.a.i.k.e.m


Beberapa hari ini saya (dan teman-teman lain) menyiapkan pelatihan bagi guru-guru soal PAIKEM: Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif Menyenangkan.

Sudah lama pendidikan kita dibayangi dengan disparitas antara academic standard dan performance standard. Ujungnya, para peserta didik hafal materi dengan baik, tetapi tidak mampu untuk merajut antara apa yang mereka pelajarai dengan untuk apa mereka akan gunakan hal yang mereka pelajari tersebut. Peserta didik sulit memahami konsep akademik yang abstrak dengan metode ceramah. Padahal butuh untuk memahami konsep-konsep yang berkorelasi dengan tempat kerja atau lingkungan sosial masyarakat di sekitar mereka (baca Suprijono, Agus, 2010, Cooperative Learning, 3rd Ed., Pustaka Pelajar, Jogyakarta).

Disparitas terjadi karena pembelajaran selama ini hanyalah suatu proses pengkondisian-pengkondisian yang tidak menyentuh realitas alami. Pembelajaran berlatar realitas artifisial. Aktivitas kegiatan belajar mengajar hanyalah pseudo pembelajaran. Ada jarak antara materi yang dipelajari dengan peserta didik sebagai insan yang mempelajarinya.

Pembelajaran seharusnya menjadi media pembebasan yang bermakna, yaitu pembebasan untuk mengaktualisasi seluruh potensi kemanusiaan, bukan sebaliknya. Nah, bagaimana lalu menciptakan pembelajaran bermakna?

Fondasi utama PAIKEM adalah konstruktivisme. Konstruktivisme dikembangkan melalui model pembelajaran langsung, pembelajaran kooperatif dan pembelajaran berbasis masalah. Asumsi penting dari konstruktivisme adalah situated cognition. Konsep ini mengacu pada ide bahwa pemikiran selalu ditempatkan atau disituasikan dalam konteks sosial dan fisik, bukan dalam pikiran seseorang. Cobern menyatakan bila konstruktivisme bersifat kontekstual. Berdasar pemikiran tersebut, maka pembelajaran harus diciptakan semirip mungkin dengan 'dunia nyata'.

Pembelajaran semacam ini dikenal sebagai Contextual Teaching and Learning.

*) Foto by BFitanto @Probolinggo

Public Transport



Pemerintah melansir wacana untuk membatasi BBM bersubsidi. Diantaranya yang tidak bisa menikmati BBM bersubsidi ini diantaranya adalah mobil yang berproduksi tahun 2005 keatas. Salah satu cara yang akan dilakukan adalah memperbesar mulut selang (nozzle) dan menghimbau produsen mobil agar membuat ukuran lubang yang berbeda.

Saya tidak habis pikir dengan kebijakan ini. Bukankah mobil-mobil keluaran baru lebih ramah lingkungan dibandingkan menyimpan mobil tahun keluaran lawas. Sepanjang pengetahuan saya, harusnya justru masyarakat (yang mampu) didorong untuk membeli mobil-mobil keluaran baru untuk menekan polusi.

Lalu bagaimana dengan masyarakat yang tidak mampu membeli mobil baru? Justru disini PR pemerintah sebenarnya.

Siapapun tentu tahu, konsumsi masyarakat akan kendaraan bukanlah menandakan kemampuan mereka membeli yang semakin baik. Sejatinya, masyarakat kita terpaksa mengeluarkan sebagian besar pendapatannya untuk kendaraan adalah karena ketiadaan transport publik yang cukup memadai bagi kegiatan mereka sehari-hari.

Andai tranport-transport publik mudah diakses masyarakat dan tersedia cukup sesuai dengan kebutuhan mereka, niscaya, masyarakat pasti tidak memilih opsi beli kendaraan sendiri. Tranportasi publik inilah yang seharusnya mendapatkan porsi paling besar dari subsisi BBM karena kedekatannya dengan kebutuhan masyarakat kebanyakan. Subsidi BBM yang cukup besar akan menandakan keberpihakan pemerintah pada masyarakat kebanyakan. Hal ini secara otomatis akan menekan ongkos operasional transportasi publik, maka, selanjutnya masyarakat dapat menikmati layanannya dengan cukup murah dan terjangkau.

Tranportasi publik yang cantik, bersih dan tepat waktu segera saja akan menyedot pemakai mobil pribadi untuk menggunakan jasanya. Implikasinya jelas, pemakaian mobil pribadi lambat laun akan berkurang. Ujung-ujungnya polusi dan kemacetan dapat ditekan. Bukankah ini lebih baik ketimbang mengatur penggunaan mobil bahkan hingga produsennya. Biar saja orang berduit tetap membeli mobil baru, cukup naikkan harga BBM dan pajaknya untuk mengganti subsidi pemerintah yang dikeluarkan bagi transportasi publik.

Motor yang saat ini membanjiri jalanan dan menyumbang angka kecelakaan cukup besar, dengan sendirinya akan berkurang karena keberadaan transportasi publik yang cantik tadi. Segera sesuaikan penggunaannya dengan pemakaian motor listrik untuk jarak dekat dan keperluan sehari-hari. Jauh lebih ramah lingkungan.

Saatnya pemerintah mereformasi armada transportasi publiknya. Agar kondisi tranportasi dan infrastruktur jalan kita tidak menjadi makin ruwet dan kusut.

*) Foto by BFitanto @Hangzhou

Selasa, 14 September 2010

Narcissism and Social Networking


Saat ini memang jamannya social networking. Apa saja yang berhubungan dengan social network selalu diborong habis oleh konsumen. Dahulu hanya disediakan oleh gadget-gadget yang canggih, tapi untuk saat ini masyarakat makin mudah saja untuk mendapatkan gadget yang memenuhi kebutuhan mereka akan social networking, dengan murah pula!

Lalu apa sebenarnya yang diharap masyarakat banyak?

Ada riset menarik dari Lauran Buffardi dan Keith Chambel, Narcissism and Social Networking Website, dipublikasikan di jurnal Personality and Social Psychology Bulletin edisi Oktober 2008. Temuannya menyatakan: 'jumlah teman dan banyaknya wallpost yang dimiliki seorang facebookers berkorelasi positif dengan narsisme. Perilaku mereka konsisten dengan bagaimana umumnya para narsis berperilaku di dunia nyata...' Facebook = where narcissist connect each other. Apa iya ya masyarakat kita makin narsis?

Yuswohady menjelaskan beberapa ciri narsis:
Love herself. Attention seeker. The sensation of 'being unique'. The sensation of 'being special'. ' Use' others to confirm their sense of distinctiveness.

Ada beberapa hal yang saya catat untuk hal ini.
Masyarakat kita adalah masyarakat yang senang silaturrahim. Facebook memudahkan mereka untuk saling silaturrahmi. Saling berkabar dan berharap dapat dengan mudah saling memberikan perhatian kepada orang lain dengan cara yang lebih praktis.

Menemukan hal-hal baru dan berbagi pengetahuan juga hal yang menarik. Kita akan makin mudah belajar dari yang lain. Banyak informasi-informasi terkini yang dengan cepat dapat kita akses melalui fesbuk, lewat tangan teman kita.

Mengembangkan bisnis. Ini juga hal yang sangat mungkin dilakukan menggunakan fesbuk. Silahkan tanyakan teman-teman Anda yang sudah meraup keuntungan yang sangat besar dari bisnis yang dijalankannya menggunakan fesbuk.

Lainnya? Mungkin Anda bisa menambahkan kategori untuk yang rajin mengabarkan detil kesehariannya? Untuk yang postingannya isinya selalu soal game? Untuk yang rajin dengan puisi-puisi indahnya?

Rasanya, fesbuk bisa menjadi sangat Anda. Bergantung pada bagaimana Anda akan menggunakannya. Pasar pun mendapatkan limpahan keuntungan dari hal ini. Pasar akan mudah melihat trend yang muncul dan hal-hal baru yang dinginkan konsumen. Karena social networking menjadikan pasar menjadi semakin humanis.

Mau bukti soal narsisme yang lain. Situs pribadi dan blog juga jelas menyiarkan tentang kita.
Jadi, blogger juga narsis.
Sayapun berarti juga termasuk....
(He..he...he...)

*) Foto by Bfitanto

Senin, 13 September 2010

Life School


DON'T GO TO UNIVERSITY. GO TO WORK.
(going to university usually means: 'I don't know what to do with my life,
so I'll go to university) ~Paul Arden~

Beberapa saat belakangan ini memang saya kerapkali diminta untuk bicara soal wirausaha. Saya pikir emang banyak saat ini mahasiswa yang makin ragu (atau: bingung?), selepas kuliah lalu mau apa? Sementara disana data satatistik dengan gagah menujukkan 57.000 orang sarjana di Jatim menganggur tahun lalu. Di Indonesia menunjukkan angka 600.000 orang.


Pertanyaannya, sekian banyak sarjana yang menganggur itu lalu melakukan apa?


Dari banyak mahasiswa yang saya temui dan lontari pertanyaan, jawabannya seragam, bila gak dapat pekerjaan juga, ya terpaksa usaha! Usaha itu hanya bila karena terpaksa, alias kepepet. Jarang orang mau buka usaha kalo tidak kepepet di Indonesia. Bisa kepepet karena apapun: gak punya uang lagi, butuh pekerjaan cepet, sekadar daripada menganggur dll. Memang belum banyak yang menjadikan wirausaha sebagai pilihan utama pekerjaan. Alasannya beragam, dari mulai sulit cari modal hingga takut resiko gagal.


Apakah semua usaha perlu modal besar? Kalau takut gagal, untuk apa lagi usaha? Padahal menganggur-pun juga ada resikonya. Mulai dari gak punya uang, hingga jauh dari punya pacar. Semua hal ada resikonya. Dimana kita bisa belajar resiko? Hanya Sekolah Kehidupan yang punya.


Sekolah formal hanyalah mengajarkan tataran nilai-nilai teori yang telah teruji keabsahannya. Yang dipelajari sebenarnya adalah masa lalu (baca juga 'Belajar Goblok dari Bob Sadino). Artinya, sekolah kebanyakan tidak mengajarkan untuk mengantisipasi masa depan, menghitung resikonya dan apalagi mengatasi tantangan-tantangan yang muncul tanpa diundang.

Beruntunglah orang-orang yang sejak awal sudah tahu arah tujuan hidupnya. Kuliah dengan materi yang disukainya, atau memutuskan untuk berusaha dibanding kuliah, tapi paham pada bidangnya. Beruntunglah orang-orang yang paham akan jalan dirinya. Andaikan salah, dia bisa segera balik arah. Tapi para mahasiswa yang kuliah tanpa tahu tujuan, pasti hanyalah bingung menunggu wisuda datang. Setelah wisuda, akan makin bingung lagi tentu saja.

Saya juga tidak percaya, wirausaha adalah bakat turun temurun. Wirausaha itu aksi, aksi itu cuma butuh kemauan kuat. Itu saja. Dalam keluarga saya hanya punya dua lajur: tentara dan pegawai negeri. Hanya kemauan kuat yang membuat saya mencoba untuk memulai usaha sejak bangku sekolah. Belajarnya ya di jalan, sambil jalan dan sambil jalan-jalan ketemu orang.


Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita.

Arden bilang:
Sulap akan kehilangan daya magisnya kalau kita sudah tahu trik-nya.
Sepakbola menjadi menarik karena permaniannya, bukan hasilnya.
Karenanya, beruntunglah orang-orang yang terus bermain dalam ketidaktahuan.
Merekalah pencetak sukses di masa depan.

Selamat datang para 'calon' wirausahawan baru...

*)Foto: Emru Suhadak, Sarjana yang memutuskan menekuni usaha dibidang persepatuan. Saat ini menjadi salah satu pemuda pelopor yang banyak memberikan sumbangsih bagi kemajuan persepatuan di kotanya. (foto by Bfitanto)